BNKP Tangerang – Web

Archive for the ‘ARTIKEL’ Category

*)  Sari Gea


I hope this can help u…

Salah satu keputusan terpenting yang harus diambil oleh seseorang dalam kehidupannya adalah tentang siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya. Keputusan ini menjadi keputusan yang sangat penting mengingat bahwa secara mendasar perkawinan hanya dirancang Allah untuk dilakukan sekali sepanjang hidup. Menikah dengan orang yang salah berarti mengalami kekecewaan seumur hidup; tetapi menemukan orang yang tepat, akan mendatangkan tahun-tahun yang dapat dinikmati bersama. Masalah yang sangat essensial adalah bagaimana menemukan orang yang tepat? Apakah memang betul Tuhan telah menetapkan seseorang untuk menjadi pendamping hidupku? Kalau ya, bagaimana caranya supaya bisa menemukan orang tersebut? Kalau tidak, apa yan seharusnya saya lakukan untuk menemukan orang yang tepat tersebut?

Konsep yang Umum (Tetapi Keliru)
Salah satu kekeliruan yang umum dijumpai dalam masalah menemukan pasangan hidup yang tepat adalah keyakinan bahwa Allah telah menetapkan satu orang untuk menjadi pasangan dari seseorang, sebelum orang tersebut dilahirkan, bahkan mungkin sebelum dunia diciptakan. Sebagai akibat dari kekeliruan konsep ini, maka tidak sediki orang yang berusaha menemukan “pasangan jiwanya” dengan cara-cara yang kurang dapat dipertanggungjawabk an.
Misalnya, dengan bertanya kepada ahli ramal-meramal dll. Tidak jarang ditemukan, mereka yang sudah menikah tetapi merasa frustasi dengan pernikahannya, merasionalisasikan apa yang dialaminya dengan mengatakan, “Ia memang jodohku, mau apa lagi?”.”Mau tidak mau, rela tidak rela saya harus belajar kehendak Tuhan, karena ini jodoh dari Tuhan.” Dengan demikian, orang Kristen sebenarnya secara sadar ataupun tidak – sudah menjadi seorang fatalis. Seorang fatalis adalah orang yang melihat segala sesuatu yang terjadi di dalam kehidupannya sudah ditentukan oleh apa yang disebut sebagai takdir. Apabila memang benar bahwa Allah telah menetapkan satu orang untuk menikahi satu orang, maka Allah-lah yang patut bertanggung jawab untuk ketidakbahagiaan yang dialami dalam rumah tangga. Mengapa? Alasannya sederhana: Allah-lah yang telah menetapkan mereka untuk menjadi pasangan satu dengan yang lainnya.

– Dua contoh kasus.
Orang yang menyakini bahwa Allah telah menetapkan satu orang untuk menjadi pasangan bagi orang lain, seringkali menggunakan dua contoh kasus yang terjadi dalam Alktitab sebagai dasar bagi pandangan mereka. Dua contoh kasus tersebut adalah: kisah Adam dan Hawa (Kej 2:20-23) dan kisah Ishak dan Ribka (Kej 24).Kej 2:20-23, “Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk daripadanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu, “Inilah dia,tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.”
Sebagian orang Kristen mengambil ayat-ayat di atas sebagai bukti bahwa untuk setiap pria, Allah telah menyiapkan seorang wanita sebagai istrinya. Akan tetapi, apabila diperhatikan dalam konteks kitab Kejadian pasal 2, sama sekali tidak ditemukan pembahasan tentang cara memilih pasangan hidup. Kejadian pasal 2 hanya berbicara tentang perlunya seorang pria mendapatkan seorang wanita sebagai pasangan hidupnya. Tidak satupun ayat dalam kitab Kejadian pasal 2 yang memberikan janji bahwa Tuhan sendiri yang akan mempersiapkan dan mempertemukan seorang pria dengan seorang wanita yang telah dipilihkan-Nya. Apa yang terjadi dalam kitab Kejadian pasal 2 adalah suatu peristiwa yang luar biasa, yang tidak akan terulang lagi dalam sejarah manusia.

Satu-satunya prinsip yang dapat ditarik dari kisah ini adalah : Apabila di dunia ini, oleh suatu sebab, hanya tertinggal seorang pria dan seorang wanita, maka pria itu dapat dengan sejahtera memutuskan bahwa wanita itu satu-satunya orang yang cocok dengannya, demikian juga sebaliknya.Kisah kedua adalah kisah bagaimana Abraham mengutus Eliezar untuk menemukan seorang wanita yang tepat untuk Ishak, anaknya. Kej 24:12-14 “Lalu berkatalah ia: “Tuhan, Allah tuanku Abraham, buatlah kiranya tercapai tujuanku pada hari ini, tunjukkanlah kasih setia-Mu kepada tuanku Abraham. Di sini aku berdiri di dekat mata air, dan anak-anak perempuan penduduk kota ini datang keluar untuk menimba air. Kiranya terjadilah begini: anak gadis, kepada siapa aku berkata, “Tolong miringkan butungmu itu, supaya aku minum, dan yang menjawab, “Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum – dialah yang Kautentukan bagi hamba-Mu, Ishak; maka dengan begitu akan kuketahui, bahwa Engkau telah menunjukkan kasih setia-Mu kepada tuanku itu.”Demikianlah kemudian terjadi. Ribka datang dan memenuhi tanda yang diinginkan oleh Eliezar. Kisah ini kelihatannya mendukung keyakinan bahwa secara khusus Allah telah menetapkan seorang wanita untuk seorang pria dan sebaliknya. Dan ketetapan ini bisa diketahui melalui “tanda”. Tetapi benarkah demikian?

Apa yang terjadi dalam kisah Ishak dan Ribka adalah suatu kasus yang sangat khusus. Dengan pengertian lain, cara seperti inibukanlah cara yang normatif. Allah tidak selalu menjanjikan akan memberikan tanda-tanda khusus bagi anak-anak-Nya dalam menemukan pasangan hidupnya.Kisah ini hanyalah satu-satunya yang tercatat dalam Alkitab, banyak kisah pasangan lainnya, terjadi secara natural begitu saja.

Seperti misalnya, pertemuan antara Abraham-Sara, Ruth-Boas, dan bahkan Yusuf-Maria. Lalu bagaimana? Allah menciptakan manusia dan memberinya kehendak bebas. Termasuk dalam kehendak bebas yang dimilikki oleh manusia adalah kebebasan dalam memilih pasangan hidup. Allah juga menciptakan manusia dengan kemampuan untuk merasa dan berpikir dengan baik. Dengan kemampuan untuk merasa dan berpikir inilah seharusnya manusia memilih seseorang untuk menjadi pendamping hidupnya. Dalam proses pemilihan tersebut, Alkitab memberikan beberapa pedoman penting :

1. Jangan memilih seorang yang bukan Kristen sebagai pasangan hidup.
Rasul Paulus menyatakannya secara tegas dalam 2Kor 6:14-15, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimana terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian persamaan?
orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan, oleh karena menyangkut satu hal yang sangat mendasar: dasar dan pandangan hidup. Perbedaan dasar dan pandangan hidup akan mempersulit proses komunikasi dan penerimaan satu dengan yang lain.”

2. Pertimbangkanlah kesesuaian (compatibilities) antara diri anda dan pasangan anda.
Allah menghendaki setiap orang Kristen mendapatkan pasangan yang seimbang dan sesuai di dalam kehidupannya. Kej 2:20, “Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.”Kesesuaian adalah kunci untuk sebuah hubungan yang kuat. Kesesuaian tidak berarti sama persis, tetapi kesesuaian berarti berbeda tetapi bisa saling melengkapi dan menerima. Kesesuaian ini meliputi bidang-bidang: kerohanian, kemampuan rasio, dan kematangan sikap hidup. Semakin sedikit kesesuaian yang ada, semakin sulit untuk membangun relasi yang kuat dan mantap. Oleh karena itu, sebelum hubungan bergerak terlalau jauh, perhatikanlah masalah kesesuaian ini. Ingatlah, pernikahan hanyalah pengalaman sekali seumur hidup.

3. Pertimbangkanlah karakternya.
Dalam kisah Eliezar menemukan Ribka, Eliezar meminta Tuhan untuk menunjukkan kepadanya seorang wanita yang tindakannya menunjukkan
kerendahan hati, ketaatan, dan sikap melayani (Kej 24:13-14).

Martin De Haan memberikan beberapa kualitas karakter yang penting bagi orang Kristen yang akan memasuki pernikahan pada masa kini :
* Kesediaan untuk melayani, kerendahan hati (Yoh 13:1-7, Rom 12:16)
* Kemurnian dalam hal seksual (Rom 13:13-14, Ibr 13:4)
* Prioritas yang benar dalam hidup (Pkh 2:1-11)
* Komitmen untuk bergereja dan melayani (Ibr 10:24-25)
* Sikap mengasihi (Yoh 13: 35)
* Penguasaan diri (Ams 23:20-21)
* Tanggung jawab (1Tim 5: 8)
Tentunya daftar ini tidak seharusnya menjadikan kita mencari orang yang sempurna. Tidak ada orang yang sempurna, tetapi kesediaan untuk terus belajar dan bertumbuh dalam karakter-karakter di atas sangatlah penting.
Beberapa tips yang berguna. Dari kisah Eliezar menemukan Ribka bagi Ishak, terdapat beberapa tips yang berguna dalam proses menemukan pasangan hidup yang cocok. Perhatikanlah beberapa tips sederhana berikut ini :
* Carilah di tempat yang tepat
Eliezar tidak mencari pasangan bagi Ishak di kampung orang Kanaan.
Ia mencari pasangan bagi Ishak di tempat di mana orang-orang juga menyembah Tuhan yang benar. Demikian juga bagi kita sekarang. Temukanlah calon pasangan hidup kita, ditempat yang tepat.
* Minta pertolongan Tuhan
Eliezar berdoa dan memohon pimpinan Tuhan (Kej 24:12). Demikianlah juga hendaknya yang kita lakukan. Dengan berdoa berarti kita mengakui keterbatasan yang ada, dan sekaligus mengakui keutamaan Tuhan di dalam kehidupan kita.
* Jangan mendasarkan keputusan semata-mata mengikuti satu “tanda”
Meskipun kita menyakini “tanda” itu berasal dari Allah; teta pergunakanlah akal sehat. Eliezar terus menerus mengamati dan menilai Ribka, walaupun ia sudah mendapati bahwa “tanda” yang dimintanya telah terpenuhi (Kel 24:21).
* Meminta pertimbangan orang lain
Ribka pun sebelum ia akhirnya bersedia mengikuti Eliezar, terlebih dahulu mendengarkan pendapat dari keluarganya (Kel 24:51, 58-61).
atu hal yang perlu diingat dalam masa pencarian pasangan hidup : “True love takes time”.

Selamat mencari pasangan hidup bersama dengan Tuhan Yesus.

HaPPy ValeNtine All…GBU

 

*) Ref: Sari Gea | Kirim Tulisan |Februari 13, 2009 pada 4:06 pm e


Saat kita bertumbuh dewasa, kadang-kadang kita menjadi terbiasa dengan cara kita sendiri sehingga tidak mau mengaku saat berbuat salah. Lebih buruk lagi, jika tidak berhadapan langsung dengan orang lain, kita selalu mencela dan berusaha meremehkan pandangan-pandangan mereka.

Sebagai contoh, ada sebagian orang yang bila tidak sependapat dengan seorang pendeta, tampaknya cepat sekali mengkritik motivasi pendeta itu dalam melakukan sesuatu. Mereka bahkan menganggap pendeta itu hanya mencari bayaran.

Kecaman semacam ini pernah dialami Amos kira-kira tahun 750 SM. Saat itu Nabi Amos menyampaikan peringatan yang keras mengenai penghakiman Allah atas Israel. Oleh karena itu, wajar bila pesannya tidak disukai. Seorang imam di Betel bernama Amazia merasa terganggu dan menyuruh Amos kembali ke Yehuda, Amazia menuduh Amos sebagai nabi bayaran, yang berkhotbah hanya untuk mencari nafkah. Amos menanggapi pernyataan itu dengan berkata bahwa ia bernubuat semata-mata karena Allah memintanya untuk berbicara.

Jika kita adalah pengkhotbah atau pemimpin, kita harus melayani Tuhan dengan setia seperti yang Amos lakukan, bahkan sekalipun tugas itu tidak menyenangkan, tidak disukai bahkan ditolak oleh jemaat kita. Dan jika kita adalah bagian dari jemaat, kita harus memastikan bahwa saat mendengar sesuatu yang kita tidak setujui sebenarnya kita tidak menentang apa yang Tuhan inginkan untuk kita dengar dan lakukan.

 

Diposting oleh Origene Hia | Januari 6, 2009 pada 7:48 am | Posting Tulisan

Sumber : “Renungan Harian 2003″


Sumber : “Kualitas Orang Sukses” Oleh : Yosua L. Hadiputra, 2008)
Diposting oleh Origene Hia, Januari 3, 2009 pada 9:46 am | Posting Tulisan
 

Ukuran kualitas manusia sesungguhnya tergantung pada komposisi manusia yang terdiri dari : SIKAP (tindakan), MENTAL (pola pikir), EMOSI (perasaan), dan ROHANI (keyakinan).

Sikap atau tindakan yang meliputi perbuatan dan perkataan adalah hal pertama yang dipakai untuk mengukur kualitas manusia. Seringkali kita menilai seseorang berdasarkan perbuatan yang dilakukannya. Jika ia berbuat baik, kita menilai dia baik, jika ia berbuat jahat, kita menilai dia jahat.

Sikap manusia bukan hanya menentukan kualitas manusia, melainkan juga mempengaruhi nasib manusia itu sendiri, bahkan juga nasib orang lain yang ada di sekelilingnya. Misalnya, jika kita membunuh, bukan hanya nasib kita, melainkan nasib keluarga kita juga akan jelek. Nasib keluarga orang yang kita bunuh juga akan jadi jelek dan menderita akibat tindakan kita.

Mungkin kita tidak pernah membunuh dalam arti sebenarnya, tetapi kita sering kali tanpa sadar “MEMBUNUH” dengan tindakan atau perkataan kita setiap hari. Dengan merusak dan menghancurkan tatanan kehidupan yang telah berjalan dengan baik, kita telah merugikan diri sendiri dan orang lain.

Jadi, jika hari ini nasib hidup kita terasa jelek, cobalah untuk menginstropeksi diri sikap hidup kita selama ini. Mungkin kita banyak melakukan tindakan yang merugikan orang lain dengan sikap sombong, malas, ragu-ragu, keras kepala, egois, putus asa, mudah menyerah, tersinggung, suka mengkritik, kurang menghargai orang lain, dan sebagainya. Jika ingin mengubah nasib hidup, kita harus bisa mengubah semua sikap negatif kita selama ini.

Ingatlah, sikap adalah “sebab” dan nasib adalah “akibat”. Jika kita bersikap positif tentu menimbulkan akibat positif, sebaliknya jika kita bersikap negatif akibatnya negatif.

Manusia berkualitas adalah manusia yang selalu bersikap positif dalam perbuatan dan perkataan sehingga menghasilkan akibat yang positif bagi dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Jika hari ini Anda tidak punya kedudukan atau jabatan terhormat, tidak punya kekayaan berlimpah, tidak berpendidikan tinggi, jangan merasa rendah diri atau kecil hati! Anda bisa menjadi manusia berkualitas jika BERSIKAP POSITIF SETIAP SAAT, dan nasib hidup Anda pasti akan menjadi lebih baik. Jika hari ini nasib hidup Anda begitu baik, pertahankan dengan menjaga sikap tetap positif.

Kualitas hidup seseorang tidak ditentukan oleh tingkat pendidikan, jabatan atau seberapa jumlah kekayaannya. Jika kita melakukan hal-hal negatif, kita akan dinilai rendah. Terlebih jika kita melanggar norma dan etika agama, kita tahu penilaian orang lain terhadap kita. Oleh karena itu, kita harus menjaga sikap agar selalu positif dalam tindakan dan perkataan.

Sikap manusia bukan sekedar menentukan kualitas manusia, melainkan juga mempengaruhi nasib hidup manusia. Khususnya, tindakan kita dalam waktu singkat bisa mengubah nasib hidup. Misalnya, bisa saja hari ini keluarga kita berbahagia dan kita memiliki karier yang baik di kantor, tetapi nasib baik itu dapat hancur seketika jika kita melakukan TINDAKAN YANG TIDAK TERPUJI, misalnya pembunuhan, pencurian, dan sebagainya. Tentu seketika itu juga seluruh segi kehidupan kita akan berantakan; sehingga keluarga berubah menjadi menderita, karier hancur, dan nasib menjadi buruk.

(Diposting oleh Origene Hia | Desember 28, 2008 pada 10:09 pm e | Posting Tulisan)

Jika sebuah produk yang kurang berkualitas karena banyak kelemahan, perlu dilakukan perbaikan atas kelemahan-kelemahan itu agar produk tersebut menjadi lebih berkualitas. Demikian halnya dengan manusia, jika hendak menjadi manusia berkualitas, kita harus mengalahkan kelemahannya dengan menguasai dan memperbaiki kelemahan-kelemahan. Namun bukankah yang namanya manusia pasti punya kelemahan? Benar sekali, tetapi apakah Tuhan menciptakan manusia dengan segala kelemahan itu? Bukankah Tuhan yang sempurna pasti menciptakan manusia dengan kesempurnaan? Lalu mengapa manusia punya kelemahan?

Hampir semua kelemahan manusia terbentuk karena kebiasaan negatif yang akan membentuk sifat, watak serta karakter diri manusia itu sendiri.
• Karena biasa dihormati, Anda marah jika ada orang yang tidak menghormati dan Anda memiliki kelemahan selalu minta dihormati. Kesombongan menguasai Anda.
• Karena biasa dituruti semua keinginan, Anda tidak senang jika keinginan Anda tidak dipenuhi. Anda dikuasai keegoisan dan selalu memaksakan kehendak.
• Karena biasa hidup santai, Anda enggan bekerja keras. Kemalasan menjadi sifat Anda dan selalu mengeluh atas pekerjaan maupun keadaan yang tidak menyenangkan.
• Karena selalu berpikiran negatif, Anda menjadi orang yang pesimis dan berpandangan sempit. Selain itu selalu berprasangka buruk pada orang lain, sinis memandang orang lain.
• Karena terbiasa marah-marah oleh hal-hal sepele yang menurut Anda tidak baik, Anda menjadi orang yang mudah tersinggung dan pemarah.
• Karena terbiasa tidak pernah disakiti dan tidak biasa memberi maaf, Anda akan menyimpan dendam pada orang yang menyakiti. Bahkan kebencian akan menguasai Anda setiap saat.
• Karena biasa dimanjakan, Anda menjadi orang yang takut menghadapi tantangan, masalah atau kesulitan bahkan menjadi orang yang tidak percaya pada kemampuan diri sendiri.
• Karena biasa hidup tidak teratur, Anda menjadi orang yang sulit diatur dan tidak disiplin. Berbuat sesuka hati tanpa peduli orang lain dan tidak punya rencana atau cita-cita hidup menjadi ciri diri Anda.
• Karena biasa berjudi, Anda menjadi seorang pemalas, pemarah, serakah, mau menang sendiri, boros serta tidak perhatian pada keluarga.
• Karena biasa mabuk-mabukkan, Anda menjadi seorang pemarah, boros, berperilaku kasar, pengecut, tidak berani menghadapi masalah, tidak menyayangi diri dan keluarga.

Karena kelemahan dibentuk oleh kebiasaan negatif, untuk mengalahkannya harus dengan membangun kebiasaan-kebiasaan positif.
• Jika Anda pemalas, biasakan bangun pagi dan selesaikan tugas dengan cepat dan bersemangat.
• Jika Anda pemarah, biasakan menahan kemarahan dan berikan nasihat-nasihat sebagai ganti cacian dan makian.
• Jika Anda pesimis, biasakan berpikir positif dan melihat segala sesuatu dari segi positif.
• Jika Anda sombong dan angkuh, biasakan memberi salam dan senyum pada semua orang.
• Jika Anda pendendam, biasakan untuk memaafkan agar Anda dimaafkan.
• Jika Anda egois, biasakan mendahulukan orang lain dan menahan semua keinginan Anda.
• Jika Anda tidak disiplin, biasakan menyusun jadwal kegiatan dan mematuhi jadwal tersebut.
• Jika Anda punya sifat, watak, karakter yang tidak baik, lakukan semua hal yang baik dan jadikan kebiasaan.

Semua kelemahan akan tampak dalam sikap dan tindakan yang dipengaruhi oleh pikiran. Agar menjadi manusia berkualitas, kita harus mengalahkan semua kelemahan yang ada pada diri kita dan memperbaikinya dengan cara seperti yang diperintahkan Tuhan.

Lakukan instropeksi diri untuk mencari tahu kelemahan-kelemahan dan tekad hati untuk memperbaikinya. Semoga kita semua terus meningkatkan kualitas diri kita dengan selalu memperbaiki kelemahan-kelemahan diri kita sendiri.

Sumber : “Kualitas Orang Sukses”,  Oleh : Yosua L. Hadiputra, 2008


Oleh Sari Gea *)


Saudara-saudara yang Kekasih,
Seperti yang Saudara tahu, peringatan ulang tahunku semakin dekat. Setiap tahun diadakan perayaan untuk menghormatiku dan aku kira tahun ini juga. Menjelang perayaan, banyak orang berbelanja hadiah, pengumuman di radio dan iklan TV. Dunia berkata bahwa perayaan semakin dekat dan semakin dekat lagi.

Yang sangat membahagiakan adalah, paling tidak setahun sekali, beberapa orang mengingat aku. Dan kita semua tahu bahwa perayaan itu sudah dimulai bertahun-tahun lalu. Awalnya orang-orang tampaknya mengerti dan bersyukur atas apa yang sudah aku lakukan bagi mereka. Tetapi kemudian tak seorangpun mengerti dasar diadakannya perayaan ini. Sanak saudara dan handai taulan berkumpul. Pakaian, perhiasannya alangkah elok. Mereka bergembira tanpa memahami arti perayaan itu sendiri.

Aku ingat tahun lalu, ada pesta besar demi menghormatiku. Meja sarat aneka rupa makanan lezat – dari kue, coklat sampai buahbuahan. Hiasan, pajangan semua mengagumkan. Bingkisan-bingkisan bertumpuk, dibungkus kertas warna warni. Sangat indah. Namun, ingin tahukah Saudara? Aku tidak diundang.

Aku seharusnya menjadi tamu kehormatan tetapi mereka lupa mengirimiku undangan. Pesta itu untuk aku tapi ketika saat bahagia itu tiba, mereka meninggalkanku diluar, pintu ditutup didepan mataku…….. Aku ingin bersama mereka, duduk bersama di meja yang sama. Sebenarnya ini tidaklah terlalu mengherankanku karena beberapa tahun belakangan orang-orang mulai menutup pintu bagiku. Karena aku tidak diundang maka aku memutuskan untuk diam-diam masuk dan duduk di pojok. Mereka minum-minum, ada yang mabuk, ngobrol sana sini sambil tertawa riang. Bahagianya mereka.Untuk melengkapi kesukaan itu, datanglah seseorang besar gemuk berpakaian merah dan berjenggot putih panjang. Ho..Ho..Ho!, serunya. Sepertinya ia mabuk. Ia duduk di sofa lalu semua anak menyerbunya sambil berteriak – Sinterklas…Sinterklas… seakan-akan perayaan itu untuk menyambut dan menghormatinya!Tengah malam semua orang mulai saling berpelukan. Aku membentangkan tangan, menunggu ada yang memelukku. Tahukan Saudara, tak seorangpun menghampiri dan memelukku. Lalu mereka bertukar hadiah. Mereka membukanya dengan suka cita, penuh harapan. Ketika semua sudah terbuka, aku mulai mencari-cari kalau-kalau ada satu untuk aku. Ternyata tak ada satupun. Apakah yang Saudara rasakan ketika semua orang bertukar hadiah lalu Saudara sendiri tidak mendapatkan? Lalu aku sadar bahwa aku tidak dibutuhkan dalam pesta itu oleh karenanya aku disisihkan.

Tahun demi tahun terjadi dan semakin menyedihkan. Orang-orang hanya ingat hadiah, baju baru, pesta, makan dan minum. Dan tak seorangpun ingat aku. Aku demikian ingin di hari Natal ini Saudara memperbolehkan aku masuk dalam hidup Saudara. Aku ingin Saudara mengingat bahwa sudah 2000 tahun yang lalu aku datang di dunia untuk memberikan hidupku bagi Saudara, diatas kayu salib, untuk menyelamatkan Saudara. Hari ini, aku semata-mata ingin Saudara percaya sepenuh hati. Yang ingin aku sampaikan adalah: karena begitu banyak yang tidak mengundangku ke pesta maka aku akan membuat perayaan sendiri. Sebuah pesta bertabur kemegahan yang belum pernah terbayangkan oleh siapapun – perjamuan agung.

Saat ini aku sedang menyiapkan segalanya. Hari ini aku menyebar undangan dan ada satu undangan untuk Saudara. Betapa aku ingin tahu minat Saudara untuk datang. Bila “ya” maka aku akan menyiapkan tempat serta menuliskan nama Saudara dengan tinta emas di buku tamuku.

Hanya mereka yang namanya tercatat akan memperoleh tempat duduk layak. Mereka yang tidak membalas undangan akan ditinggalkan di luar. Bersiaplah sebab bila semua persiapanku telah selesai, Saudara akan duduk dalam perjamuan agungku.

*Bagikan kepada orang lain yang Saudara cintai sebelum Natal tiba. Sampai jumpa.
Aku mengasihimu.

Yesus

 

*) Ref. Posting Tulisan | Sari Gea Berkata: Desember 23, 2008 pada 3:15 pm e

Oleh Sari   *)

 

Pernahkah saat kau duduk
santai dan menikmati hari, dalam seketika
kau ingin berbuat sesuatu untuk orang yang kau sayangi? Itu adalah
TUHAN yang sedang berbicara denganmu melalui Roh kudus-Nya.

Pernahkah saat kau sedang sedih, kecewa tetapi tidak ada org yang
disekitarmu yang dapat kau curhati? Itulah saat dimana TUHAN
menginginkanmu untuk berbicara pada-Nya.

Pernahkah
saat kau memikirkan seseorang yang sudah lama tak kau temui, dan
seketika itu juga kau bertemu dengannya atau menerima telpon darinya? Itu
adalah kuasa Tuhan. Tidak adanamanya kebetulan.

Pernahkah kau
menerima sesuatu yang tak kau harapkan, yang tak sanggup kau dapatkan,
yang kau ingin kan ? Itu adalah Tuhan yang mengetahui
keinginan/suara hatimu.

Pernahkah kau berada
dalam situasi yang buntu, tidak
tahu cara memperbaikinya, bagaimana luka itu hilang atau sembuh, kau
harus sadari bahwa itu adalah saat dimana Tuhan ingin memberikan
cobaan untukmu, sehingga kau memperoleh hari yang lebih cerah.

Aku tahu bahwa kau memperhatikan ku. Dan aku sangat bersyukur atas
berkat-Mu. Apapun yang telah aku doakan, Kau-lah yang mengetahui yang
terbaik untukku. Amin!

 

*) Ref.: Sari Gea | Artikel | Berkata: Desember 9, 2008 pada 11:27 am

Oleh Abdi Batee *)

 

Menjadi kaya adalah impian kebanyakan orang dan sah-sah saja. Yang harus diperhatikan adalah :
(1) Menjadi kaya, bukanlah tujuan utama di dalam hidup ini;
(2) Ingin cepat kaya seringkali menjebak orang-orang ke dalam perbuatan yang berdosa;
(3) Menikmati hidup lebih penting dari menjadi kaya tetapi mempunyai banyak masalah.
(4) selalu ingat masalah tidak perlu dicari,Ia akan mencari kita,semua orang memiliki masalah.berdoalah ketika engkau menghadapinya.
(5) Muliakanlah Tuhan untuk semua hal yang kita kerjakan.
(6) Berpikirlah positif, misalkan jangan berkata aku miskin,melainkan katakan aku jauh dari kaya.
(7) Bagaimana menjalani hidup yang berarti itu? renungkan itu
(8)Hendaknya kita ingat bahwa seringkali Tuhan mengajar manusia dengan perkara-perkara kecil terlebih dahulu sebelum mempercayakan perkara besar, dan lagipula tidak ada sesuatu di dunia yang perfect yang memenuhi semua idealisme kita. Berpikirlah sederhana!!
(9)Mulailah dari diri sendiri dulu,sebelum engkau mau mengajarkan kepada orang lain.
(10)Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.

 

*) Ref. : Abdi Batee | Artikel | Berkata: Desember 3, 2008 pada 7:21 pm



  • solusi2013: ibadah raya minggu biasanya mulai jam berapa? saya ingin datang by zega
  • Yusniar laia: untuk saudara yg mengenal ESTER APRIL YANI LAIA anak dr Tani'aro laia(Alm) dan sitina nduru tolong melakukan konfirmasi kepada keluarga kandung ester
  • Vikar Yunison Hulu, S.Th: Salom bapak/i, sdr/i di BNKP Tangerang, Saya Vikar Yunison Hulu, vikar ke-2 BNKP, sekarang saya melayani di Resort 54 BNKP, Batam yang dibimbing ol

Kategori

%d blogger menyukai ini: